Manusia Pembohong-2


Cerita -1.

Seorang tokoh terhormat yang dikenal baik dan terpelajar mendatangi anak-anak TK yang sedang bermain simulasi menjadi “wakil rakyat”. Anak-anak itu sedang mengerubuti segepok duit.

Tokoh terpelajar itu bertanya, “mau kalian apakan duit itu?” “Ya, kami perebutkanlah.” “Gimana caranya?”

“Siapa yang paling jago dan lihai berbohong, dialah pemenang yang mendapatkan duit segepok ini”.

Tokoh terhormat itu geleng-geleng kepala seolah tak percaya melihat kelakuan anak-anak yang berperan menjadi wakil rakyat itu. Tokoh itu nyeletuk, “dunia sudah bobrok. Waktu bapak masih sekolah dulu, bapak nggak pernah berbohong!”

Anak-anak itu serentak berkata, “Wah, kami serahkan duit ini ke bapak. Bapak pemenangnya!” Ada kisah lain

Cerita -2.

Bus rombongan politisi yang melakukan kunjungan ke daerah mengalami kecelakaan di desa terpencil. Beberapa orang petani menemukan bus naas para politisi itu. Karena hari sudah gelap, seluruh penumpang langsung dikubur. Polisi yang kemudian datang menyelidiki, menanyakan kepada para petani dan saksi mata. “Ada yang masih hidup?” tanya polisi.

“Ada yang mengaku masih hidup, tapi kami kuburkan semua, karena biasanya mereka suka berbohong,” jawab para petani itu.

Kenapa banyak kisah mengenai politisi? Mungkin karena para politisi, baik yang sedang berjuang masuk ke kekuasaan maupun yang sudah berada di dalam lingkaran kekuasaan, memang memiliki citra suka berbohong.

Saat kampanye misalnya, mereka mengobral janji. “Kami akan bangun sepuluh jembatan di daerah ini!” begitu antara lain seruan dan janji saat kampanye. Padahal, semua orang tahu, di daerah itu tidak ada sungai.

Cerita -3.

Seorang anak muda yang akan merantau ke Jakarta, dinasihati oleh saudaranya yang seorang pimpinan ranting sebuah parpol di daerah. “Jangan gampang percaya sama orang-orang Jakarta. Banyak tukang bohong di sana,” saran bapak pimpinan ranting itu.

Begitu sampai di Jakarta, pemuda itu naik bus dari terminal Kampung Rambutan menuju Monas. Sesampai di Senayan, dia turun karena ingin lihat gedung wakil rakyat. Ketika melangkah turun dia diingatkan kondektur, “Awas, kaki kiri duluan, jangan kaki kanan.”

Karena ingat nasihat saudaranya bahwa di Jakarta banyak tukang bohong, pemuda itu turun dengan kaki kanan duluan. Akibatnya, dia babak belur. Karena, kalau turun pakai kanan duluan pasti terpelanting. Itu rumus umum penumpang bus.

“Gila, pakai kanan aja bisa celaka, apalagi kalau pakai kiri,” gerutu anak muda itu saat dibawa ke rumah sakit.

Cerita -4.

Beberapa tahun yang lalu sebelum terjadi Perak Irak, seorang yang menyatakan dirinya sebagai pemimpin dunia, bercerita kepada temannya yang lebih pendek, “Hei Ndek, kata menteri saya di Irak ada senjata pemusnah massa lho, bahaya nih”

Temannyapun menyahut, “Ah yang bener Kung?, Emang dia bisa buat, tempohari kan kamu juga yang ngajarin”.

Si Jangkungpun menimpali, “Kita suruh tentara kita aja cari disana, hitung-hitung buat latihan, gimana?”

“Ok”, sahut si Pendek, “Tentara sayapun sudah pada gendut, jarang latihan”, tambahnnya pula.

Setelah perang berbulan-bulan, ternyata tidak ada senjata yang dimaksud, Si Jangkung bilang kepada Si Pendek, ” He, Ndek, senjatanya tak ada, gimana nih?, sebenarnya aku malu banget.”

“Ah, kamu kan lebih pandai dari aku, nilai mengarangmu kan lebih tinggi dari aku”, sahut si Pendek.

Akhirnya setelah perang berbulan-bulan tanpa hasil, kecuali membuat negara Irak jadi kacau, Si Jangkung bilang, “Ok, Perang selesai”, tanpa sedikitpun menyinggung soal senjata pemusnah massal.

—–

Masih banyak cerita sejenis disekitar kita, tapi percayakah anda bahwa cerita ini hanya bohong belaka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s