Catatan

Ini adalah komentar salah seorang facebooker pada artikel di Republika Online yang berjudul : “Kekerasan Umat Beragama di Indonesia tidak Wajar”

Saya merasa perlu untuk mengcopy komentar ini untuk sedikit membuktikan, bahwa hukum aksi – reaksi juga dapat diberlakuan. Mungkin banyak hal lain yang dapat dijadikan pelajaran.

=====

Akhir November 2010, International Crisis Group (ICG) merilis laporan berkode “Asia Briefing N°114” yang sangat mengejutkan. Secara blak-blakan, lembaga yang bermarkas di Brussels Belgia ini mempublikasikan hasil investigasi yang panjang dari berbagai sumber bahwa akar masalah di balik insiden anatar umat beragama di indonesia termasuk Ciketing baru-baru ini adalah maraknya gerakan kristenisasi di Bekasi yang sebagian didanai dari luar negeri.

Dalam laporan berjudul “Indonesia: ‘Christianization’ and Intolerance” itu, ICG menyimpulkan bahwa salah satu faktor utama meningkatnya gesekan antarumat beragama di Indonesia adalah agresivitas Kegiatan penginjilan di daerah Muslim (Aggressive evangelical Christian proselytizing in Muslim strongholds).

“On the Christian side, several evangelical organizations committed to converting Muslims have also set up shop in Bekasi, some funded internationally, others purely home-grown. Yayasan Mahanaim, one of the wealthiest and most active, is particularly loathed by the Islamist community because of its programs targeting the Muslim poor. Another, Yayasan Bethmidrash Talmiddin, run by a Muslim convert to Christianity, uses Arabic calligraphy on the cover of its booklets, suggesting they are Islamic in content, and requires every student at its school as a graduation requirement to convert five people,” demikian laporan ICG tertanggal 24 November 2010.

(Di pihak Kristen, beberapa organisasi penginjil yang berkomitmen untuk mengkristenkan Muslim ada di Bekasi, beberapa didanai dari luar negeri, yang lain murni lokal. Yayasan Mahanaim, salah satu organisasi neo-Pentakosta yang paling bonafit serta aktif, sangat dibenci kaum muslim garis keras karena program-programnya menjadikan orang-orang muslim yang miskin sebagai objek pemurtadan. Sebelumnya, Yayasan Kaki Dian Emas, yang dijalankan oleh pendeta yang tadinya muslim, menggunakan kaligrafi Arab pada sampul-sampul publikasinya, seolah-olah isinya mengenai Islam, dan mewajibkan setiap siswa sekolahnya mengkristenkan sepuluh orang sebagai syarat kelulusan).

International Crisis Group (ICG), tidak selevel jika dibandingkan dengan LSM-Liberal gurem di Indonesia seperti Setara Institute, Wahid Institute, dll. Rekomendasi ICG, mejadi masukan terpenting bagi lembaga HAM PBB, sedangkan penelitian LSM-Gurem di Indonesia hanya pesanan sponsor, terutama bagi mereka yang anti dengan Islam…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s